Pendakian perdana Mt.Prau

Hi buddy,

Saya ingin menceritakan pengalaman baru yang belum lama ini saya lakukan yaitu mendaki gunung. Mendaki adalah salah satu kegiatan yang sedari dulu ingin saya lakukan. Sebenarnya sebelum pengalaman yang akan saya ceritakan ini, ada banyak rencana untuk mendaki gunung yang gagal untuk saya laksanakan. Dari rencana mendaki gunung Slamet karena kawan-kawan yang membatalkan dan ajakan mendaki gunung Ciremai yang tidak saya ikuti karena tidak diperbolehkan oleh orangtua kala itu. Sedikit bercerita, ketika wabah corona baru melanda, tempat umum dan tempat wisata harus ditutup sampai kondisi memungkinkan. Hingga tiba saatnya diberlakukannya “new normal” oleh pemerintah. Sampai akhirnya tempat umum dan tempat wisata diperbolehkan untuk di buka kembali dengan peraturan-peraturan dan protokol kesehatan yang diberlakukan.

Ketika sedang mengecek handphone, saya mendapati informasi dari salah satu teman yang memposting status tentang beberapa gunung yang sudah kembali dibuka. Iseng-iseng saya mengajak salah satu kawan saya yang bernama Juari untuk mendaki. Respon ia pun positif, dia mau untuk saya ajak. Mungkin karena dia ingin merasakan asiknya mendaki, kegiatan yang sudah lama ia tidak lakukan kembali. Darisinilah terbentuk rencana untuk mendaki. Sebelumnya saya memberi saran untuk mendaki gunung Slamet, tetapi ia menolaknya dan lebih memilih gunung yang tidak terlalu tinggi dan cocok didaki oleh seorang pemula seperti saya yaitu gunung Prau. Gunung prau adalah gunung yang terletak di kabupaten Wonosobo dengan ketinggian 2.565 mdpl. Kita berencana untuk mendaki tanggal 16 Agustus agar kita dapat menikmati hari kemerdekaan RI pada tanggal 17 Agustus disana. Jauh sebelum hari keberangkatan, kami mengajak kawan-kawan yang lain untuk ikut mendaki. Sebelumnya juga saya mendapat informasi dari teman saya yang sudah mendaki gunung Prau tentang apasaja persyaratan pendakian gunung Prau pada saat new normal seperti ini. Tadinya ada beberapa kawan yang mau ikut mendaki sebanyak 3 orang, tetapi semuanya membatalkannya. Alhasil saya dan Juari mengurungkan diri untuk mendaki.

Di hari H (16 Agustus) timbul perasaan ngotot saya untuk tetap mendaki, mungkin karena keinginan untuk mendaki yang sebelumnya banyak menuai kegagalan bagi saya. Sampai akhirnya Juari mengirimkan informasi bahwa salah satu basecamp pendakian gunung Sindoro yang sudah sangat ramai bahwa pendaki yang baru datang berkemungkinan untuk mendaki keesokan harinya. Juari memberi arahan untuk mengundur keberangkatan. Alasannya “Pendakian ke gunung Sindoro yang notabennya lebih tinggi dan sulit didaki saja sudah sangat ramai apalagi di gunung Prau”. Sayapun memberi arahan untuk mencoba CP orang disana, alhasil ia memberi informasi bahwa masih adanya quota untuk mendaki dan lebih baik untuk mendatangi basecamp pendakiannya langsung. Rasa optimis kitapun muncul, karena pada siang hari itu kita belum menyiapkan apapun, akhirnya Juari mengontak salah satu temannya bernama Siska, wanita yang sudah lebih sering mendaki untuk ikut dan pastinya dia memiliki peralatan yang lebih lengkap seperti tenda dan kompor mini. Siskapun menyetujuinya. Tanpa berpikir panjang saya dan Juari mendatangi klinik kesehatan untuk membuat surat keterangan kesehatan yang menjadi salah satu syarat mendaki gunung Prau. Setelah membuat surat keterangan sehat, kamipun berkemas untuk melakukan pendakian.

Sore harinya, kita (Saya, Juari, dan Siska) melakukan perjalanan menuju Dieng tepatnya menuju basecamp Patak banteng, Wonosobo. Ya basecamp Patak banteng adalah via pendakian gunung Prau yang akan kami tuju. Perjalanan dari Purwokerto ke Wonosobo sekitar 3 jam perjalanan yang kita tempuh menggunakan kendaraan pribadi. Di perjalanan kita sempatkan untuk membeli masker dan jajanan lain seperti rokok dll. Sesampainya di sana jam sudah menunjukan pukul 9 malam. Saya bertanya pada salahsatu penjaga apakah masih ada quota untuk mendaki di malam itu, ia pun memberikan informasi bahwa masih ada quota untuk mendaki. Sayapun memarkirkan kendaraan di belakang Alfamart dekat basecamp. Setelah itu kami bergegas berjalan kaki untuk menuju basecamp.

Sesampainya di basecamp, saya diberi arahan untuk mengisi formulir pendaftaran, cek suhu badan, pemeriksaan perlengkapan, dan registrasi. Sebelum mengisi pendaftaran saya dan Siska mempersiapkan fotocopy KTP. Pada saaat mengisi formulir dan cek suhu badan kami tidak memiliki hambatan. Setelah mengisi formulir pendaftaran dan cek suhu badan kami menuju pengecekan barang bawaan, disinilah kami memiliki hambatan. Karena tidak memiliki persiapan barang bawaan yang lengkap (jangan dicontoh), kamipun kekurangan sleeping bag dan matras. Sayapun berdalih ke petugas hanya melakukan pendakian sebentar saja. Petugaspun berkata “kamu mau mendaki gunung atau hanya mau membuat ktp?” Untungnya tempat penyewaan peralatan pendakian gunung tersedia di basecamp Patak banteng. Karena itu, kami menyewa sleeping bag dan matras di basecamp. Harga untuk menyewa satu sleeping bag per harinya 15ribu dan untuk matras 10ribu. Setelah itu kami menuju tempat registrasi.

Kami membayar tiket 80ribu untuk 3 orang disana.

Setelah melakukan pengecekan tiket, kira-kira pukul 11 malam kami langsung melakukan pendakian. Pendakian gunung Prau berawal dan kebanyakan harus kita lalui dengan menaiki anak tangga. Di perjalan naik kami disuguhkan pemandangan lampu-lampu di kawasan dataran tinggi Dieng.

Estimasi waktu pendakian dari basecamp ke camp area adalah 3 jam, tetapi kita menempuh perjalanan dengan waktu kira-kira 2jam setengah, padahal kami banyak beristirahat juga pada saat mendaki. Kira-kira pukul 01.30 WIB kami telah mencapai camp area. Setelah mencapai di camp kami langsung mecari lahan untuk mendirikan tenda. Kami mendirikan tenda di dekat bukit yang mungkin juga dinamakan bukit teletubies. Setelah tenda berdiri kami mempersiapkan makanan, menyeduh secangkir kopi dan susu sebelum beristirahat.

Pagi harinya saya terbangun atau lebih tepatnya dibangunkan oleh kawan saya Juari pukul 5 pagi. Hawa dinginpun menyapa pagi itu. Setelah bangun pagi, kami berinisiatif menyeduh secangkir kopi untuk disantap bersama. Sungguh nikmat menikmati pagi itu dengan secangkir kopi. Sunrisepun menyapa kita walaupun hanya sekejap karena setelah itu kabut datang menutupnya.

Ketika kabut datang, waktu kita gunakan untuk saling bercengkrama sana sini. Hawa dinginpun kembali kami rasakan. Alhasil kami memilih untuk menutup tenda dan melanjutkan tidur. Maklum, sebelumnya kami hanya merasakan tidur kurang dari 3jam. Kami terbangun pukul 8an, mungkin karena teriakan orang-orang yang saling bersautan entah hanya karena asik saja atau semangat mereka menyambut kemerdekaan RI. setelah terbangun saya keluar tenda, terlihat banyak orang mengeluarkan dan membawa sangkaka merah putih pada saat itu.

Kami tidak membawa bendera kala itu. Bagaimana membawa bendera, membawa perlengkapan mendaki saja kurang lengkap. Terlihat dari kejauhan orang mengibarkan bendera merahputih, momen itu kami isi dengan berdiri tegak menghadap sangkaka merah putih. Karena tak mau kalah untuk mengabadikan momen 17 Agustus, alhasil kami meminjam dari salah satu orang untuk berfotoria dengan bendera merah putih.

Dirgahayu Republik Indonesia ! ! !

Setelah berfoto, kami menuju tenda untuk menyiapkan sarapan. Sarapan yang kami buat sederhana, yaitu mie instant. Usai sarapan kami memilih untuk berkemas dan menuju perjalanan pulang. “Awas kalau turun gunung, sampah kita harus kita bawa kembali turun agar di gunung tetap terjaga kebersihannya”. Ketika menuju perjalanan pulang, kami disapa oleh gunung Sindoro, Sumbing dan gunung-gunung lain.

Kami menuju perjalanan untuk turun dari puncak pukul 10an dan kira-kira sampai kembali di basecamp patak banteng pukul 12an siang. Setelah itu kami mengembalikan sleeping bag dan matras yang sempat kami sewa malam harinya, dan Siska yang diberi tugas untuk melapor kepada petugas kalau kita sudah turun (laporan turun).

Estimasi biaya kira-kira :

• Cek kesehatan = 50rb/2 = 25rb

• Logistik = 30rb/3 = 10rb

• Bensin PP Purwokerto-Wonosobo = 150rb/3 = 50rb

• Masker: 30rb/2 = 15rb

• Penyewaan alat tambahan (sleeping bag dan matras ) = 25rb/3 = 8rban

• Biaya masuk = 80rb/3 = 26rban

• Parkir kendaraan = 25rb/3 = 8rban

• Jajan = 60rb/3 = 20rb

Total kira-kira biaya per orang = 162rb an

Buat Situs Web Gratis dengan WordPress.com
Mulai